Si Kupu-Kupu Malam

2:36:00 PM

http://achmadi-if.blogspot.com/2016/04/si-kuou-kupu-malam.html

"BRAKK! " suara dari meja yang di pukul oleh pria bertubuh sedang.
"Jangan dibuka pak, jangann.. " memelas si anak perempuan itu.
"Apa yang kamu sembunyikan di tas itu ?! " tanya pria tersebut.
Anak perempuan itu memilih untuk diam dan menunduk.


Cukup lama terjadi keheningan diantara keduanya, sampai akhirnya.

"Kepada Dinda Dwi Aprilia untuk segera menuju ruang BK" bunyi dari toa dekat kelas X MIPA 4.
Tetesan air mata menemani langkah Dinda berjalan ke ruang BK.

Sementara itu di ruang BK, pria yang menggebrak bangku dinda tersebut tak kuasa menahan air mata setelah melihat isi tas milik Dinda.

"Ckiiit" bunyi pintu saat dibuka.
"Duduk nak.." ucap si pria yang ternyata seorang guru di sekolah tersebut.
Dinda pun duduk di sofa yang sangat empuk , nyamannya sofa tersebut tak membuat hati Dinda tenang.

"Sejak kapan Dinda kerja seperti ini ?" tanya guru tersebut seraya menaruh sebuah kotak di atas meja.
"Hkk.."

-----------------------------------------------------------

"Maafkan saya pak." tangis pun pecah kala Dinda melihat kotak itu.
"Nak,ceritakan.. ceritakan mengapa kau melakukan pekerjaan hina itu ? " tanya Guru tersebut.
"Dulu, hidup saya sangat berkecukupun,bahkan lebih dari cukup untuk membuat anak sebayaku iri terhadapku. Tapi, setelah Bunda pergi, semua berubah. Ayah jarang tidur di rumah, bahkan hampir tidak pernah. Secara tidak langsung, sebagai kakak saya harus merawat adik-adik saya. Terutama akhir-akhir ini, adik saya yang pertama menderita sakit liver, dan adik kedua saya sebentar lagi akan masuk sekolah dasar. Saya harus "bekerja" tanpa henti. Saya selalu menyiapkan buku pelajaran untuk besok sebelum berangkat ke tempat itu. Sampai akhirnya, semalam saya tertidur, saya lupa mengeluarkan kotak itu dari tas saya. Maafkan saya pak." Jawab Dinda.

"Dinda.. maafkan ayah." kembali air mata mengucur dari mata bulat Guru tersebut.
"Ma..ma..maksud bapak? bapak ? tidak mungkin pak !." Teriak Dinda.
"Ayah bingung nak, sudah 1 tahun ini ayah kembali ke kota ini. Namun ayah tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf pada kamu dan adik-adikmu. Apa kah kamu tidak pernah bertanya-tanya siapa yang selalu menaruh 3 bungkus nasi di meja terasmu setiap pagi dan malam ?" tanya Ayah si Dinda.
"Jadi selama 1 tahun ini? a..ayah yang selalu membelikan Dinda dan adik-adik nasi ?." Dinda pun terkejut.

"Maaf nak , maafkan ayah. Ayah pun selalu membersihkan makam Ibumu setiap minggu. Maafkan ayah, Dinda anakku."

Dan hari itu, adalah hari yang penuh emosi. Baik itu emosi amarah, ataupun emosi cinta kasih sayang orang tua pada anak, dan sebaliknya.
Pelukan hangat disertai secercah sinar sang surya menghangatkan pagi itu.

Yang bisa kita ambil dari cerita ini? Aku tidak begitu lantang untuk menjawabnya. Semua tergantung pada pandangan kita masing-masing tentang Dinda dan Ayahnya yang telah lama hilang tanpa meninggalkan jejak yang dapat terbaca. Namun ada satu hal yang harus kita lakukan setelah membaca cerita ini. BERSYUKUR

MUNGKIN KAMU JUGA INGIN MEMBACA YANG LAIN

0 comments

Ikuti aku di Google+

Tulisan Populer